Kalau ngomongin tempat wisata di Bandung, kebanyakan orang mungkin langsung kepikiran pegunungan, kafe, atau spot foto yang estetik. Tapi di Bandung Barat ada tempat yang vibes-nya beda, yaitu Stone Garden Citatah di kawasan Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat. Dari kejauhan, tempat ini memang kelihatan seperti kumpulan batu besar yang sengaja disusun buat mempercantik pemandangan. Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam, bebatuan dan tebing di kawasan ini menyimpan cerita bumi yang usianya jauh lebih tua dibanding peradaban manusia. Kawasan Karst Citatah-Rajamandala sendiri merupakan bagian dari bentang alam batu gamping yang terbentuk sekitar 25–30 juta tahun lalu. Jadi, saat orang datang buat foto-foto sambil menikmati sunset, sebenarnya mereka sedang berdiri di atas salah satu “arsip” perjalanan bumi yang usianya luar biasa panjang.
Beberapa hal yang bikin tebing dan kawasan Stone Garden Citatah ini menarik bukan cuma soal view-nya:
• Pernah jadi dasar laut
Batuan kapur di kawasan Citatah terbentuk dari lingkungan laut dangkal. Jejak kehidupan laut purba kemudian ikut menjadi bagian dari batuan yang sekarang justru berada jauh dari garis pantai.
• Umurnya puluhan juta tahun
Formasi Rajamandala yang menyusun kawasan ini masuk periode Oligo-Miosen, dengan perkiraan umur sekitar 30–25 juta tahun. Kebayang nggak, batu yang sekarang dijadikan background foto sudah ada jauh sebelum manusia modern muncul.
• Bentuk tebingnya bukan muncul tiba-tiba
Proses pengangkatan akibat aktivitas tektonik, pelipatan batuan, pelapukan, dan erosi berlangsung sangat lama sampai akhirnya menghasilkan perbukitan karst seperti yang terlihat sekarang.
• Dekat dengan situs prasejarah
Kawasan ini juga berdekatan dengan Gua Pawon, salah satu lokasi penting untuk penelitian kehidupan manusia prasejarah di Jawa Barat. Jadi ceritanya bukan cuma tentang batu, tetapi juga tentang perjalanan manusia yang pernah hidup di sekitarnya.
Kalau dilihat dari kacamata ilmiah, keberadaan batu kapur di Citatah merupakan bukti bahwa kondisi lingkungan Bandung dan sekitarnya pada masa lampau sangat berbeda dengan sekarang. Penelitian sedimentologi menunjukkan batu gamping Formasi Rajamandala tersusun dari berbagai jenis batuan karbonat dan berkaitan dengan lingkungan terumbu serta lereng terumbu di wilayah laut purba. Seiring perubahan tektonik, batuan yang awalnya berada di lingkungan laut kemudian terangkat dan mengalami berbagai proses geologi hingga membentuk bentang alam karst. Dari sudut pandang urban, keberadaan Stone Garden juga terasa unik karena lokasinya sekarang berada di tengah perkembangan kawasan Bandung Raya. Jalan raya, permukiman, jalur kereta, dan aktivitas industri berada tidak jauh dari bentang alam yang terbentuk jutaan tahun lalu. Kontras ini yang bikin Citatah menarik: di satu sisi terlihat seperti destinasi foto kekinian, tetapi di sisi lain tempat tersebut merupakan bagian dari sejarah geologi yang jauh lebih tua daripada kota Bandung itu sendiri. Sayangnya, kawasan karst Citatah-Rajamandala juga menghadapi tekanan eksploitasi batu kapur. Pemerintah bahkan pernah menyoroti nilai geologis, geomorfologis, dan arkeologis kawasan ini yang sangat disayangkan jika terus hilang akibat penambangan.
Jadi, kalau suatu saat mampir ke Stone Garden Citatah, jangan cuma sibuk cari angle foto paling estetik. Coba lihat batu-batu di sekitar dan bayangkan: jutaan tahun lalu, tempat yang sekarang jadi spot nongkrong dan hunting foto ini pernah berada di lingkungan laut dangkal. Di balik pemandangan yang kelihatan sederhana, ternyata ada cerita bumi yang panjang banget.